Selasa, 30 April 2013 , 14:25:00 WIB

Ini Jawaban Lengkap PDI Perjuangan soal Politik Dinasti dan Rekrutmen Caleg

Laporan:





RMOL. Bagi PDI Perjuangan, penjaringan dan penyaringan bakal calon anggota legislatif merupakan bagian upaya peningkatan kinerja DPR RI.

Hal ini sejalan dengan amanat Kongres III partai yang  menegaskan bahwa pengelolaan kekuasaan pemerintahan negara ditujukan untuk meletakkan dasar-dasar bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat di bidang politik, Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri dan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Selain itu, kata Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, PDI Perjuangan juga merespons kritik masyarakat terkait dengan kecenderungan nepotisme dalam penempatan calon anggota legislatif. Dan terkait hal ini, PDI Perjuangan telah mengeluarkan peraturan partai Nomor 061/2013.

Dalam asal 29 peraturan ini disebutkan bahwa dalam satu keluarga yang terdiri dari orang tua, suami-isteri, anak, dilakukan pembatasan maksimum hanya dua calon. Sementgara suami isteri dilarang untuk dicalonkan pada tingkatan yang sama dan daerah pemilihan yang sama. Larangan ini diperluas menjadi ketentuan etis, dimana satu saudara kandung kakak dan adik, disarankan untuk tidak dicalonkan pada tingkatan yang sama.

"Orang tua, suami-isteri, anak, tidak boleh sama-sama dicalonkan sebagai angota legislatif dari partai yang berbeda. Sementara dalam hal suami isteri dicalonkan pada tingkatan yang berbeda, maka proses pencalonannya dilakukan karena memenuhi kualifikasi sebagai calon anggota legislatif, bukan karena status hubungan suami-isteri," kata Hasto beberapa saat lalu (Selasa, 30/4).

Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan tetap menyadari bahwa basis rekrutmen partai merupakan salah satu jalur rekrutmen, yang memang berasal dari keluarga. Survei yang dilakukan internal PDI Perjuangan menunjukkan bahwa lebih dari 78 persen responden internal partai bergabung ke PDI Perjuangan karena menyatukan diri dengan ide, gagasan dan perjuangan Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri. Lebih dari 68 persen dari responden mengenal Bung Karno, Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan dari keluarga.

"Dengan demikian keluarga merupakan basis kekuatan PDI Perjuangan. Karena itulah bagi PDI Perjuangan adalah hal yang wajar apabila muncul kader yang berasal dari keluarga PDI Perjuangan dan kemudian dicalonkan. Yang harus dihindarkan adalah hubungan keluarga yang kemudian menciptakan subyektivitas di dalam pencalonan," tegas Hasto.

Terkait dengan rekrutmen artis atau selebritis, Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan tidak menempuh jalan pragmatis. Artis yang direkrut selain memiliki kompetensi, juga memenuhi kriteria secara ideologis dan mampu menjalankan fungsi legislasi, anggaran, pengawasan dan representasi serta pengabdian di partai. Hal ini terlihat dari rekam jejak Edo Kondolangit, Rieka Dyah Pitaloka, Yessy Gusman, dan Nico Siahaan. Artinya, seluruh artis yang direkrut tidak hanya mempertimbangkan elektabilitas, namun juga pemahaman di dalam membumikan ideologi.

"Prinsip kebangsaan sebagai contoh, diterjemahkan dengan sangat baik dalam tradisi kebudayaan oleh Edo dan Nico. Rieke Dyah Pitaloka memiliki basis buruh dan tokoh perempuan. Demikian halnya Yessy Gusman. Dalam kapasitasnya sebagai lawyer memiliki kemampuan untuk mewarnai politik legislasi yang sejalan dengan kebijakan partai," jelas Hasto.

Hasto pun memastikan seluruh proses penyaringan dilakukan dengan psikotes. Psikotes untuk memotret kemampuan seseorang ditinjau dari aspek kepemimpinan, kepribadian dan kemampuan menyelsaikan masalah. Psikotest dilaksanakan dengan bekerja sama Himpunan ahli Psikologi Indonesia (HIMPSI). Dan di seluruh Indonesia telah dilaksanakan psikotest dan diikuti oleh 17.362 bakal caleg. Data psikotest ini sangat penting bagi konsolidasi personil partai.

Dari proses penyaringan yang dilakukan, masih kata Hasto, juga dapat direkrut calon dari eksternal yang memeliki integritas dan kompetensi yang tidak perlu diragukan, seperti masuknya tokoh Jawa Barat seperti DR Jalaluddin Rakhmat,  yang lebih dikenal dengan Kang Jalal. Kang jalal selain ketokohannya, pakar komunikasi, juga memiliki integritas tinggi serta pemikiran tentang Islam Madani. Demikian halnya dengan Teten Masduki, yang juga direkut untuk dicalonkan di Dapil Jabar 1, namun  Teten Masduki lebih memilih untuk memperkuat Balitbang PDI Perjuangan.

"Di luar itu, juga direkrut tokoh petani, buruh, dan mereka yang memiliki pemahaman kuat untuk mendorng bekerjanya ekonomi kerakyatan," demikian Hasto. [ysa]





BERITA LAINNYA