RMOL. Lewat perwakilan dan kuasa hukumnya, Pondok Pesantren Sunan Kalijaga resmi melaporkan Kapolsek Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ke Polres Cilacap atas pemukulan yang dilakukannya kepada salah seorang pengasuh Ponpes, Jumat (2/8).
 
Penyelesaian secara hukum dilakukan setelah rapat keluarga besar pesantren menganggap bahwa penyelesaian terbaik adalah lewat jalur hukum.
 
“Secara resmi kami melaporkan tindakan pemukulan oleh Kapolsek Gandrungmangu kepada salah satu pengasuh kami, Kyai Basuki yang dilakukan pada Rabu malam lalu,” kata Jurubicara Ponpes Sunan Kalijaga, Rio Hardiyanto kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu.
 
Rio menjelaskan pihak pesantren sebenarnya sudah berusaha menyelesaikan secara kekeluargaan dengan mendatangi Mapolsek. Ketua Pengasuh Abah KH Sholeh Ali Mahbub bahkan bersedia datang sendiri untuk mengklarifikasi kepada Kapolsek.
 
“Namun klarifikasi Abah Kyai malah berbuntut tidak baik. Kapolsek menantang para kyai dan mengajak bunuh diri bersama dengan menggunakan bahan peledak sitaan yang disimpan di Mapolsek,” jelasnya.
 
Keluarga besar pesantren juga menuntut penyelesaian secara hukum setelah melihat arogansi Kapolsek yang menyuruh santri menyingkirkan pasir dari badan jalan dengan menggunakan tangan. Padahal, saat itu para santri membawa sekop yang siap digunakan.
 
“Kapolsek tidak memperbolehkan santri menggunakan sekop. Dia malah menyuruh menggunakan tangan,” tuturnya.
 
Dihubungi per telpon, Humas Polres Cilacap, AKP Siti Hayati membenarkan peristiwa tersebut. Namun dia enggan berkomentar lebih jauh. “Ya benar laporan dilakukan hari ini. Tapi nanti saya akan klarifikasi dulu dengan Kapolres agar keterangan bisa lebih lengkap,” ujar Siti. [zul]