Dr. H. Oesman Sapta

WAWANCARA

Irwandi Yusuf: Kasus Pembunuhan Meningkat Di Aceh, Saya Punya Gagasan Bikin Qanun Qishas

 SABTU, 02 APRIL 2016 , 09:51:00 WIB

Irwandi Yusuf: Kasus Pembunuhan Meningkat Di Aceh, Saya Punya Ga

Irwandi Yusuf:net

RMOL. Eks koordinator juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini geram melihat makin tingginya tindak kek­erasan dan pembunuhan di Aceh. "Makanya saya punya gagasan, kalau ada tiga atau lima kasus pembunuhan yang ada di Aceh dalam setahun, buatlah qanun qishas," ujar Irwandi Yusuf.

Selain miris melihat tingginya angka kriminalitas, Irwandi juga prihatin melihat menin­gkatnya angka kemiskinan di Aceh. Padahal transfer dana dari pemerintah pusat ke Aceh cukup banyak. Berikut pema­paran bakal cagub Aceh ini dalam menangani persoalan di Aceh saat ini:

Anda melihat kondisi Aceh saat ini seperti apa?
Angka kemiskinan di Aceh makin tinggi. Ke depan kita sulit lagi untuk berharap akan ada pemindahan pabrik dari luar ke Aceh, karena Aceh ini masih ditakuti orang. Mereka mencatat setiap judul koran, ini setiap bulan masih ada kejadian yang gawat di Aceh. Sementara ini harus mampu kita buat im­age, jangan ada lagi kasus-kasus pembunuhan di Aceh.

Caranya?
Saya punya gagasan, kalau ada tiga atau lima kasus pem­bunuhan yang ada di Aceh dalam setahun. Nanti kalau saya terpi­lih, di tahun kedua saya akan membuat qanun qishas. Nggak ada cara lain.

Bukannya hobi Gubernur baru itu bongkar pasang ja­batan pejabat?
Ketika itu, yang baru di dalam pemerintahan Aceh hanya dua orang, saya dan wakil. Yang lain semua orang lama. Dan barang lama pun tidak saya ganti sesuka saya. Saya bikin fit and proper test, itu pertama di Indonesia dan hanya diikuti oleh Ahok.

Atau Anda di masa awal kepemimpinan nanti ingin membicarakan masalah ben­dera?
Mungkin perlu dibicarakan, karena itu amanah MoU, amanah Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Tapi ngomonglah dengan cara proporsional.

Tapi faktanya, sudah dua pe­riode, tampuk pimpinan Aceh dipegang oleh eks kombatan GAM, tapi nggak ada peruba­han yang signifikan. Apa masih ada yang mau milih lagi?

Waktu Indonesia dipegang oleh Orde Baru orang juga maki-maki. Alangkah bohong kalau bilang nggak ada perubahan sejak dipimpin eks kombatan, termasuk saya. Kalau sekarang, saya nggak tahu urusan orang. Urusan saya banyak hal-hal baru yang saya buat dan ditiru secara nasional.

Konkretnya, apa perubahan di masa Anda?
Waktu pertama masuk kan­tor, itu Data BPS 33 persen kemiskinan di Aceh. Tiap tahun turun sekitar dua persen. Selesai masa jabatan tinggal 17 persen angka kemiskinan. Itu sensus tahun 2012. Itu kan hasil keja tahun 2011. Ini sekarang angka kemiskinan naik, tapi uang (transfer dari pusat) bertambah banyak.

Tapi di masa Anda juga terjadi. Sehingga uang yang banyak itu tidak bisa diman­faatkan sepenuhnya untuk Aceh, karena harus dikemba­likan ke pusat?

Silpa masa saya terjadi pada tahun 2008, itu karena pertama kali menerima dana Otsus dan Migas. Yang 70:30 persen itu. Untuk melaksanakan Otsus Migas perlu dibuat tiga Qanun.

Oh ya, belakangan Anda sering terlihat terbang meng­gunakan pesawat mini kem­ana-mana. Boleh diceritakan sedikit soal hobi baru Anda itu?
Itu untuk menggugah seman­gat Dirgantara rakyat Aceh, yang muda-muda terutama. Kalau bisa beli mobil, tentu dia bisa beli pesawat. Sebab sama harganya. Tapi pesawat yang itu, bukan yang lain. Saya me­nyediakan diri saya tempat ber­tanya. Dengan pesawat ini, saya bisa mengunjungi tempat-tempat bencana dengan cepat, bisa me­lihat dengan cepat sejauhmana keberhasilan pembangunan atau kerusakan tanpa protokoler, tanpa biaya tinggi. Dipakai un­tuk memantau pencurian ikan juga bagus.

Masak sih biayanya tidak tinggi?
Terbang itu biayanya sangat rendah. Tergantung jaraknya. Satu jam 20 liter, Rp 150 ribu. Terus ada yang bilang biaya landing mahal. Padahal nggak. Sekali landing, Rp 20 ribu. Di kota-kota besar lebih murah lagi. Harapan saya dengan adanya pesawat satu biji ini, ini pesawat pertama di Asia lho. Yang seperti ini. Kalau pasarnya tinggi, tentu pabrik bisa pindah pabriknya ke sini. Dengan pesawat penump­ang biasa lebih aman ini, punya parasut.

Cita-cita saya waktu kecil jadi pilot tempur. Cuma karena lahir di kampung dan miskin maka cita-cita itu jadi punya orang kaya... He-he-he.

Setelah selesai menjabat Gubernur, apa yang anda rasakan?
Setelah selesai jabatan, kan orang biasa orang ada post power sindrome, saya sudah siapkan dari awal. Maka saya tidak tinggal di pendopo, tidak saya minta nyetir mobil pada orang lain, minta buka pintu pada orang lain, sekali-kali nyuci piring di rumah, bantu istri ma­sak. Begitu juga nyetir. Makanya pesawat itu untuk mengganti post power sindrome menjadi post power hoby.

Kenapa tidak tinggal di Pendopo?

Kalau tinggal di rumah dinas, waktu selesai jabatan kan harus ngepak baju, ngepak koper ang­kut. ***

Komentar Pembaca
#KataRakyat: Apa sih Unicorn?

#KataRakyat: Apa sih Unicorn?

, 20 FEBRUARI 2019 , 21:41:00

Nada Dari Nadi Dhani

Nada Dari Nadi Dhani

, 19 FEBRUARI 2019 , 21:00:00

Pertamina

Pertamina "Dilemahkan" Penguasa Sendiri

, 19 FEBRUARI 2019 , 12:33:00

Prabowo Jenguk Ahmad Dhani

Prabowo Jenguk Ahmad Dhani

, 19 FEBRUARI 2019 , 16:19:00

Diskusi Pasca Debat

Diskusi Pasca Debat

, 19 FEBRUARI 2019 , 18:43:00